Selasa, 11 Oktober 2011

Kutai Pantun

Oleh: Maharaja Kutai Mulawarman Reza

Suku Kutai Pantun adalah suku atau Puak yang paling Tua diantara 5 Suku atau Puak Kutai lainya dan Suku ini mendiami daerah Muara Kaman Kab. Kutai Kartanegara dan sampai Daerah Wahau dan Daerah Muara Ancalong, serta Daerah Muara Bengkal, Daerah Kombeng di dalam wilayah Kab.Kutai Timur sekarang, suku Kutai pantun dapat dikatakan sebagai turunan para bangsawan dan Pembesar di Kerajaan Kutai Martapura (Kutai Mulawarman) sebenarnya nama kerajaan ini awalnya disebut Queitaire (Kutai) oleh Pendatang dan Pedagang awal abad masehi yang datang dari India selatan yang artinya Belantara dan Ibukota Kerajaannya bernama Maradavure (Martapura) berada di Pulau Naladwipa dan letaknya di tepi Sungai Mahakam di seberang Persimpangan Sungai Kanan Mudik Mahakam yakni Sungai Kedang Rantau asal nama Kota Muara Kaman sekarang.
Hal diatas didasari dari pengkajian jalur pelayaran India, Indo Cina dan Kalimantan yang amat menarik dikaji secara mendalam, maka secara pasti kronologis sejarah ini juga termuat dalam berita jalur perdagangan timbal balik segitiga antar daerah, karena bukan saja dalam berita – berita dari India saja namun berita – berita dari cinapun dapat dijadikan bahan kajian mengenai asal nama Kutai, bahwa dalam hubungan dagang bangsa cina dengan Pulau Silalahi yang berada dibagian timur negeri Cina, dan mereka menyebut pulau tersebut dengan nama Zabudj artinya Kalimantan dan baru diketahui kemudian ada hubungan antara Kerajaan Campa dan Kho-Thay (Kutai) yg berasal dari makna Kerajaan Besar dipedalaman sungai Mahakam.
Memang nama Kutai baru dikenal dalam bahasa Melayu, sebutan awalnya menurut berita India adalah Queitaire artinya Belantara dan dalam berita Campa atau Cina disebut Kho-Thay artinya Kota Besar atau Bandar Kerajaan Besar. Dan kemudian perpindahan penduduk dari Campa sebagai buruh tambang Emas yang membangun sistim kesukuan dan dikepalai oleh seorang Raja Kecil bawahan dari Kemaharajaan Kutai Martapura dan dipimpin oleh seorang Kepala Puak Sendawar (Suku Dataran atau Dayak Tunjung), mereka mendiami daerah Melak sampai Barong Tongkok di Kab. Kutai Barat sekarang. Selain itu pula ada Suku Bola Bongan yang merupakan (Suku Darat atau Suku Dayak Benuaq), yang tinggal didaerah Sungai ohong dan menetap disekitar Kec.Bongan sekarang suku Dayak Benuaq menyebar hampir kepenjuru pulau Kalimantan mereka merupakan pendatang dari daratan Cina Selatan ras Mongolide yang semula merantau ke Dongson (Vietnam Sekarang). Bersamaan waktu jalanya pemerintahan Kemaharajaan Queitaire Maradapure, (Kerajaan Kutai di Martapura) banyak negeri bawahan kerajaan ini yg dipimpin oleh Raja Kecil yg dapat disamakan dengan Kepala Negeri setingkat Gubernur sekarang misalnya saja Negeri Talikat dan Negeri Daha wilayahnya di Daerah Kota Bangun dan Muara Muntai Sekarang, yang penduduknya merupakan Puak atau suku Kutai Kedang dan Suku Adat Lawas di Keham Dalam. Sedangkan Kutai Kedang Baroh mendiami wilayah Penyinggahan dan Muara Pahu selain Negeri Kelekat dipedalaman Sungai Belayan dan banyak Negeri lainya seperti Negeri Tanjung Gelumbang, Kanibungan, Jantur Tasik, Loa Niung dan Gelumbang Jo, Kumpai Menamang, Bunga Lo dan Negeri wilayah di Sungai Negeri Monggoh, serta lainya. Wilayahnya meliputi pulau Kalimantan daerah Tanah Merah, Sesayap, Batu Salah, Lemuntan, Long Nawan, Sembuan, Hawang Buta, Riwang, Sepaso, Petidan, Batu Putih, Seguntar, Teluk Bayur, Rantau Panjang, Langkap, Tanjung Batu, Tanjung Aru, Tanjung Layar, Palai Hari, Balandean, Paringin, Bongkang, Tanjung Putting, Kaluing, Mendawai, Tanjung Usu, Ma-Benagih, Muara Sepayang, Tami Layang, Pemangkat, Gunung Kaliangkang, Rengkang, Naga Sahe, Balai Karang, Sungai Kukap, Padang Tikar, Sukadana, Tanjung Sambar, Nanga Tayap, Sukaraja, Sungai Seruyan daerah atau negeri-negeri ini kemudian disebut wilayah Negeri Bakulapura yang merupakan wilayah Kekuasaan Maharaja Kutai di Martapura.
Perhara peperangan terjadi di Muara Sungai Mahakam, antara Pasukan Batara dari Majapahit dan Perahu Kapal Jong atau Wangkang Naga Cinta yang merupakan para pedagang menjalin hubungan deplomatik dengan Kerajaan Kutai Martapura di Muara Kaman. Kekalahan diterima oleh Pasukan Cina yang lari kedaratan dan Menjadi Suku Dayak Basap mendiami daerah daratan pesisir pantai Kalimantan Bagian Timur, Bergolaknya perang diperairan Mahakam tepatnya di Tanjung Riwana yang merupakan Pangkalan atau Pelabuhan Syahbandar transit perdagangan yang merupakan wilayah Kerajaan Kutai Martapura yang berpusat di Muara Kaman, Jatuhnya Benteng Samsekepeng akibat serangan dari Pasukan pimpinan Raden Kusuma yang adalah adik dari Raden Wijaya Raja Majapahit yg berlainan Ibu ini, mengakibatkan jalur perekonomian dibidang perdagangan antar luar negeri diblokir Kerajaan Kutai Martapura semakin mengalami kemunduran karena para pedagang hanya melewati jalan Sungai menuju Muara Kaman. Tempat peperangan antar pasukan Kerajaan Kutai Martapura dan Cina serta Batara dari Majapahit ini diberinama Tanjung Riwana dan Kotanya diberinama Jahitan Layar dan sekarang namanya menjadi Kutai Lama dan atas kemenangan dari Sang Batara ini diperingati sebagai Hari Erau Tempong Tawar Mengulur Naga yang mengandung makna bahwa telah ditenggelamkanya kapal atau Jong Pedagang Cina yang bercorak Naga. Selain itupula Sang Batara menaklukan 4 wilayah Kerajaan Kutai yakni, Hulu Dusun, Binalu dan Sambaran serta Jahitan Layar maka atas keberhasilan tersebut Raden Kusuma di anugerahi Gelar Aji Batara Agung Dewa Sakti yang bertugas sebagai Batara (Pimpinan Militer) dan merangkap sebagai Mangkubumi setingkat Adipati Wilayah oleh Raja Majapahit dan diwajibkan membayar upeti kepada Kerajaan Majapahit setiap Musim Timur.

Dari nama antara Kerajaan Kutai Martapura di Muara Kaman dan Kesultanan Kutai Kartanegara di Tenggarong, membuat kita lebih dapat memahami bentuk dan teori beririnya Kerajaan Kutai bahkan sangat jelas bahwa Kerajaan Kutai Martapura ini berada di wilayah pedalaman sungai Mahakam bermula di abad ke 4 M, sedangkan Kesultanan Kutai Kartanegara baru ada dimulai abad ke 13 M, bahkan sejak kurun waktu 14 abad Kerajaan Kutai Martapura di Muara Kaman ini memiliki hak secara De-Jure dan De-Fakto dalam pemerintahan sebagai Negara Berdaulat penuh tanpa pernah menjadi bawahan dari Negara Kerajaan Manapun hal ini berlangsung dari Tahun 350 M-1605 M, sedangkan Kesultanan Kutai Kartanegara ini tidak memiki hak De-Fakto hanya memiliki hak De-Jure saja hal ini dibuktikan bahwa dinyatakannya dalam tambo bahwa didaerah pesisir pantai Timur Kalimantan dipimpi oleh seorang Batara dibawah kekuasaan Kerajaan Majapahit, Batara ini sekaligus sebagai Pimpinan Militer dan Merangkap Hamangkubumi Wilayah setingkat Adipati, yang menguasai daerah Hulu Dusun, Jahitan Layar Sambaran dan Binalu yang dipusatkan di Jahitan Layard an Batara Tersebut adalah Raden Kusuma pembesar dari Keturunan Raja Singasari.

Aji Batara Agung Dewa Sakti memperisteri anak Seorang Adipati Indu Anjat di Batang Lunang daerah Perian Sekarang, dan Putri tersebut adalah Keponakan dari Seorang Petinggi Hulu Dusun bernama Babu Jaluma, dan Putri Tersebut anak Dari Serading Dipati bernama Karang Melenu dan Melahirkan Aji Paduka Nira, yang dalam tahun 1325 Aji Paduka Nira Menggantikan Aji Batara Agung Dewa Sakti sebagai Batara karena Aji Paduka Nira Berhasil Menaklukan daerah Buntang, Santan, Gunung Kemuning, Pandan Sari, Tanjung Semat, Rinjang, Rihang, Panyuangan, Senawan, Sangan-sangan, Kembang, Sungai Samir, Dundang, Manggar, Tanah Habang, Susuran Dagang, dan Tanah Malang, Pulau Atas, Karang Asam, Karang Mumus, Sambumi, Sembakung, Sabuyutan, Mangku Palas yang semula Negeri Wilayah Kerajaan Kutai Martapura yang berpusat di Muara Kaman. Dan Aji Paduka Nira berhasil Pula Melarikan Putri dari Kerajaan Kutai Martapura bernama Putri Indra Perwati Dewi, Putri ini sedang berada ke Mengkaying di Bungalo dan diambil Isteri oleh Aji Paduka Nira yang bergelar Aji Batara Agung Dewa Sakti dan Putri Indra Perati Dewi anak Maharaja Nala Guna Perana Tungga diberi Gelar Aji Paduka Suri atau Mahasuri Dibengalon.

Pada Tahun 1360 Aji Batara Agung Paduka Nira Mininggal Dunia dan Meninggalkan 7 Orang Putra Putri dari hasil perkawinanya dengan Aji Paduka Suri. Dan Baru pada tahun 1370 Maharaja Sultan datang Menghadap Brawidjaya III Raja Majapahit untuk meminta pengakuan diplomatic hal ini didukung oleh Anak Pembesar dari Suku Tunjung bernama Puncan Karna yang memperisteri Aji Raja Putri adik dari Maharaja Sultan yang telah membentuk system pemerintahan Dewan Ponco Prabu dan Dewan Perwalian Aji Sapta dan Menamakan Daerahnya Ing Kute Kartanegara yang mana nama ini adalah pengabadian dari nama Raja Singasari bernama Kartanegara.

Dewan Ponco Prabu adalah Dewan Lima Raja yang mempunyai hak atas mengatur kebijakan dalam roda pemerintahan dibawah naungan Raja Wilwatita yang merupakan Kerajaan Kecil dalam persekutuan Negara Majapahit dewan ini diketuai oleh Aji Maharaja Sakti dan beranggotakan antara lain : 1. Aji Maharaja Sakti, 2. Aji Maharaja Suradiwangsa, 3. Aji Maharaja Indrawangsa dan 4. Aji Maharaja Darmawangsa adapun Dewan perwalian Aji Sapta yng bertugas dalam menyelenggarakan siding-sidang di kepalai oleh Aji Maharaja Sakti dan beranggotakan 1. Puncan Karna, 2. Aji Maharaja Suradiwangsa, 3. Aji Maharaja Indrawangsa dan 4. Aji Maharaja Darmawangsa, 5. Aji Raja Putrid dan 6. Aji Dewa Putri. Sejak itulah kekuasaan Kerajaan Kutai Martapura tidak mendapat pengakuan sebagai wilayah Kerajaan Majapahit dikarenakan Maharaja Indra Mulia dari Muara Kaman, tidak mau tunduk dan takluk dibawah Kekuasaan Kerajaan Majapahit dan atas dasar tersebut Kerajaan Kutai Martapura ini pula memiliki hak penuh dalam negaranya dikarenakan keinginannya yang keras dalam mempertahankan kedaulatan dan tidak ingin dijajah oleh pihak Majapahit.

oleh: Maharaja Kutai Mulawarman Reza

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar